Monthly Archives: Juli 2010

Berdoa di Bulan Ramadhan

Aturan untuk shoum di bulan Ramadhan telah ditetapkan Allah SWT dalam surat Al Baqarah dari ayat 183 sampai ayat 187. Hampir seluruh ayat tersebut terdapat kata-kata shoum:

  • (Al Baqarah 183)
  • (Al Baqarah 184)
  • (Al Baqarah 185)
  • (Al Baqarah 187)

Hanya ayat 186 yang tidak mengandung kata shoum:

“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran.”

Peletakan ayat ini diantara ayat-ayat tentang shoum Ramadhan bukan tanpa maksud. Kalau ditilik dari asbabun nuzul ayat ini adalah berkenaan dengan datangnya seorang Arab Badui kepada Nabi SAW yang bertanya: “Apakah Tuhan kita itu dekat, sehingga kami dapat munajat/memohon kepada-Nya, atau jauh, sehingga kami harus menyeru-Nya?” Nabi SAW terdiam, hingga turunlah ayat ini. (Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir, Ibnu Abi Hatim, Ibnu Marduwaih, Abussyaikh dan lain-lain).

Menurut riwayat lain, ayat ini turun berkenaan dengan sabda Rasulullah SAW: “Janganlah kalian berkecil hati dalam berdoa, karena Allah SWT telah berfirman ‘Ud’uni astajib lakum’ (berdoalah kamu kepada-Ku, pasti aku mengijabahnya)” (QS 40:60). Berkatalah salah seorang di antara mereka: “Wahai Rasulullah! Apakah Tuhan mendengar doa kita atau bagaimana?” Sebagai jawabannya, turunlah ayat ini (Diriwayatkan oleh Ibnu ‘Asakir yang bersumber dari Ali.)

Menurut Sayyid Qutb dalam kitabnya Fii Zhilalil Quran, Allah menjawab langsung tentang keberadaanNya yang sangat dekat dan langsung berfirman bahwa Dia akan mengabulkan segala doa kita. Dalam ayat ini juga terdapat tiga syarat untuk diterimanya suatu doa. Pertama, doa tersebut harus dipanjatkan kepada-Nya secara langsung. Jadi janganlah kita berdoa kepada mahluk Allah seperti jin, makam atau pohon. Dan kalaupun berdoa akan lebih baik apabila doa tersebut diucapkan secara langsung kepada-Nya. Syarat kedua dalam berdoa adalah kita harus memenuhi segala perintah Allah SWT. Seperti ketika seorang anak sebaiknya mengikuti nasehat/perintah orang tuanya untuk mendapatkan yang diinginkannya. Sedang syarat ketiga adalah kita harus beriman kepada-Nya agar doa kita diterima.

Walaupun ayat 186 ini tidak mengandung kata shoum, tapi penempatan ayat ini menunjukkan pentingnya kita berdoa pada bulan Ramadhan. Hal ini sesuai dengan hadits nabi SAW:

“Orang yang berpuasa memiliki doa yang mustajab pada waktu berbuka.” (Diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud)

Atau dalam hadits lain, nabi SAW bersabda:

“Ada tiga orang yang tidak akan ditolak doanya yaitu pemimpin yang adil, orang yang berpuasa sehingga dia berbuka dan orang yang dianiaya. Doa mereka diangkat oleh Allah di bawah awan pada hari kiamat dan dibukakan untuknya pintu-pintu langit dan Allah berfirman, ‘Demi keagungan-Ku, Aku akan menolongmu walaupun sesudah suatu waktu’” (Riwayat Imam Ahmad, Tirmidzi, Nasai dan Ibnu Majah)

Demikianlah, urgensi dari berdoa dalam bulan Ramadhan karena hal itu meningkatkan kemungkinan doa kita diterima. Maka perbanyaklah kita berdoa dalam bulan Ramadhan. Semoga Allah SWT menerima doa kita.

Wallahua’lam bish showab.

gatot pramono

Iklan
Categories: Uncategorized | Tinggalkan komentar

Qurrota A’yun

dakwatuna.com – Dan orang-orang yang berdoa: “Ya Tuhan kami, anugerahkanlah untuk kami isteri-isteri dan anak keturunan kami yang menjadi penyejuk mata kami, dan jadikanlah kami pemimpin bagi orang-orang yang bertaqwa”. (QS. Al-Furqan: 75)

Imam Ibnu Katsir memahami qurratu a’yun dalam ayat ini sebagai anak keturunan yang taat dan patuh mengabdi kepada Allah. Ibnu Abbas menjelaskan bahwa keluarga yang dikategorikan qurratu a’yun adalah mereka yang menyenangkan pandangan mata di dunia dan di akhirat karena mereka menjalankan ketaatan kepada Allah, dan memang kata Hasan Al-Bashri tidak ada yang lebih menyejukkan mata selain dari keberadaan anak keturunan yang taat kepada Allah swt.

Secara bahasa, anak dalam bahasa Arab lebih tepat disebut dengan istilah At-Thifl Pengarang Al-Mu’jam al-Wasith mengartikan kata At-Thifl sebagai anak kecil hingga usia baligh. Kata ini dapat dipergunakan untuk menyebut hewan atau manusia yang masih kecil dan setiap bagian kecil dari suatu benda, baik itu tunggal.

Kamus besar bahasa Indonesia mengartikan anak sebagai keturunan kedua. Disamping itu anak juga berarti manusia yang masih kecil. Anak juga pada hakekatnya adalah seorang yang berada pada suatu masa perkembangan tertentu dan mempunyai potensi untuk menjadi dewasa seiring dengan pertambahan usia. Dalam kontek ini, maka anak memerlukan bantuan, bimbingan dan pengarahan dari orang dewasa (orang tua dan para pendidik).

Berdasarkan pembacaan terhadap ayat-ayat Al-Qur’an yang menyebut kata Ath-Thifl yang berarti anak yang masih kecil sebelum usia baligh, maka terdapat empat ayat yang menyebut kata ini secara tekstual. Dua ayat berbicara tentang proses kejadian manusia yang berawal dari air mani, yaitu surah Al-Hajj: 5 dan surah Ghafir: 67. Sedangkan kedua ayat lainnya yang menyebut kata At-Thifl terdapat dalam surah An-Nur : 31 dan 59 yang menjelaskan tentang adab seorang anak di dalam rumah terhadap kedua orang tuanya.

Yang paling mendasar dalam pembahasan seputar anak tentu tentang kedudukan anak dalam perspektif Al-Qur’an agar dapat dijadikan acuan oleh orang tua dan para pendidik untuk menghantarkan mereka menuju kebaikan dan memelihara serta meningkatkan potensi mereka. Al-Qur’an menggariskan bahwa anak merupakan karunia sekaligus amanah Allah swt, sumber kebahagiaan keluarga dan penerus garis keturunan orang tuanya. Keberadaan anak dapat menjadi: 1) Penguat iman bagi orang tuanya [QS: 37: 102] seperti yang tergambar dalam kisah Ibrahim ketika merasa kesulitan melakukan titah Allah untuk menyembelih Ismail, justru Ismail membantu agar ayahnya mematuhi perintah Allah swt untuk menyembelihnya, 2) Anak bisa menjadi do’a untuk kedua orang tuanya. [QS: 17: 24], 3) Anak juga dapat menjadi penyejuk hati (Qurratu A’ayun), [QS: 26: 74], 4) menjadi pendorong untuk perbuatan yang baik [QS: 19: 44]. Akan tetapi, pada masa yang sama, anak juga dapat menjadi 5) fitnah, [QS: 8; 28] 6), bahkan anak dapat menjelma menjadi musuh bagi orang tuanya. [QS: 65: 14]

Maka dari itu, para ulama sepakat akan pentingnya masa kanak-kanak dalam periode kehidupan manusia. Beberapa tahun pertama pada masa kanak-kanak merupakan kesempatan yang paling tepat untuk membentuk kepribadian dan mengarahkan berbagai kecenderungan ke arah yang positif. Karena pada periode tersebut kepribadian anak mulai terbentuk dan kecenderungan-kecenderunganya semakin tampak. Menurut Syekh Fuhaim Musthafa dalam karyanya Manhaj al-Thifl al-Muslim: Dalilul Mu’allimin wal Aba’ Ilat-Tarbiyati Abna masa kanak-kanak ini juga merupakan kesempatan yang sangat tepat untuk membentuk pengendalian agama, sehingga sang anak dapat mengetahui, mana yang diharamkan oleh agama dan mana yang diperbolehkan.

Dalam hal ini, keluarga merupakan tempat pertama dan alami untuk memelihara dan menjaga hak-hak anak. Anak-anak yang sedang tumbuh dan berkembang secara  fisik, akal dan jiwanya, perlu mendapatkan bimbingan yang memadai. Di bawah bimbingan dan motifasi keluarga yang continue akan melahirkan anak-anak yang dikategorikan ‘qurratu a’yun’.

Untuk mewujudkan semua itu, maka sejak awal Islam telah menyoroti berbagai hal di antaranya penegasan bahwa awal pendidikan seorang anak dimulai sejak sebelum kelahirannya, yaitu sejak kedua orang tuanya memilih pasangan hidupnya. Karena pada dasarnya anak akan tumbuh dan berkembang banyak tergantung dan terwarnai oleh karakter yang dimiliki dan ditularkan oleh kedua orang tuanya. Di antara tujuan disyariatkan pernikahan adalah terselamatkannya keturunan dan terciptanya sebuah keluarga yang hidup secara harmonis yang dapat menumbuhkan nilai-nailai luhur dan bermartabat.

Dalam konteks ini, Al-Ghazali yang kemudian dikuatkan prinsip-prinsipnya oleh Ibn Qayyim al-Jauzyyah menegaskan bahwa pendidikan di lingkungan keluarga sangatlah penting, oleh kerena itu pelaksanaannya harus dilakukan dengan baik, dengan pembiasaan dan contoh-contoh teladan, memberikan permainan yang wajar dan mendidik, jangan sampai memberikan permainan yang mematikan hati, merusak kecerdasan, menghindarkannya dari pergaulan yang buruk. Pengaruh yang positif diharapkan akan menjadi kerangkan dasar bagi anak untuk menyesuaikan diri dengan lingkungannya serta bagi pertumbuhan dan perkembangan selanjutnya. Membangun kerangka dasar pada anak usia dini dapat diibaratkan membangun sebuah bangunan bertingkat. Bangunan seperti itu tentu saja akan dimulai dengan membuat kerangka pondasi yang sangat kokoh yang mampu menopang bagian bangunan yang ada di atasnya. Demikian pula anak-anak yang memiliki pondasi yang kuat dan kokoh ketika usia dini maka akan menjadi dasar dan penopang bagi perkembangan anak memasuki pendidikan selanjutnya, termasuk mempersiapkan hidupnya di tengah masyarakat.

Menurut pandangan Syekh Mansur Ali Rajab dalam karyanya Ta’ammulat fi falsafah al-Akhlaq terdapat paling tidak lima aspek yang dapat diturunkan dari seseorang kepada anaknya, yaitu: 1). Jasmaniyah, seperti warna kulit, bentuk tubuh, sifat rambut dan sebagainya. 2). Intelektualnya, seperti, kecerdasan dan atau kebodohan. 3) tingkah laku, seperti tingkah laku terpuji, tercela, lemah lembuat, keras kepala, taat, durhaka. 4) alamiyah, yaitu pewarisan internal yang dibawa sejak kelahiran tanpa pengaruh dari faktor eksternal. 5) sosiologis, yaitu pewarisan yang dipengaruhi oleh faktor eksternal.

Ibn Qayyim Al-Jauzyyah dalam salah satu karyanya yang monumental tentang pendidikan anak ’Tuhfatul Maudud bi Ahkamil Maulud’ menegaskan bahwa setiap anak terlahir dalam keadaan fitrah, suci dan selamat dari penyimpangan dan menolak hal-hal buruk yang membahayakan dirinya. Namun lingkungan yang rusak dan pergaulan yang tidak baik akan menodai kefitrahan anak dan dapat mengakibatkan berbagai penyimpangan dan pada gilirannya akan menghambat perkembangan akal fikirannya. Sehingga tujuan akhir dari dari pendidikan anak prasekolah adalah memberikan landasan iman dan mental yang kokoh dan kuat pada anak, sehingga akan hidup bahagia bukan saja di saat ia dewasa dalam kehidupannya di dunia, tetapi juga bahagia di akherat, bahkan diharapkan dapat mengikut sertakan kebahagiaan itu untuk kedua orang tua, guru dan mereka yang mendidiknya.

Sehingga pendidikan anak usia dini pada hakekatnya juga merupakan intervensi dini dengan memberikan rangsangan edukasi sehingga dapat menumbuhkan potensi-potensi tersembunyi (hidden potency) serta mengembangkan potensi tampak (actual potency) yang terdapat pada diri anak. Upaya mengenal dan memahami barbagai ragam potensi anak usia dini merupakan persyaratan mutlak untuk dapat memberikan rangsangan edukasi yang tepat sesuai dengan kebutuhan perkembangan potensi tertentu dalam diri anak. Upaya ini dapat dilalukan dengan memahami berbagai dimensi perkembangan anak seperti bahasa, intelektual, emosi, social, motorik konsep diri, minat dan bakat.

Tujuan lain dari pemberian program simulasi edukasi adalah melakukan deteksi dini terhadap kemungkinan terjadinya gangguan dalam pertumbuhan dan perkembangan potensi-potensi yang dimiliki anak. Gangguan ini dapat muncul dari dua faktor, yakni faktor internal yang terdapat dalam diri anak dan dan faktor ekternal yang berwujud lingkungan di sekitar anak, baik yang berwujud lingkungan fisik seperti tempat tinggal, makanan dan alat-alat permainan ataupun lingkungan sosial seperti jumlah anak, peran ayah/ ibu, peran nenek/ kakek, peran pembantu, serta nilai dan norma sosial yang berlaku.

Ayat di atas yang menjadi doa sehari-hari setiap orang tua yang mendambakan hadirnya keturunan yang qurratu a’yun, hendaknya dijadikan acuan dalam pembinaan anak, sehingga tidak lengah sesaatpun dalam upaya melakukan pengawasan, pendidikan dan pembinaan anak-anak mereka. Itulah diantara ciri Ibadurrahman yang disebutkan pada ayat-ayat sebelumnya yang memilki kepedulian besar terhadap nasib anak-anak mereka di masa yang akan datang. Semoga akan senantiasa lahir dari rahim bangsa ini generasi yang qurratu a’yun, bukan hanya untuk kedua orang tuanya, tetapi juga masyarakatnya dan bangsanya. Amin.

Dikirim oleh Dr. Attabiq Luthfi, MA pada 12 Mei 2010

Categories: Uncategorized | 2 Komentar

Urgensi waktu dan seni memenejnya

Seorang ahli hikmah bertutur:

apabila suatu hari kulewati, sementara tiada suatu hal bermanfaat  yang kuperbuat untuk bekal akhiratku, dan tidak pula suatu ilmupun yang dapat kutimba, maka hari itu bukan termasuk umurku, umurku terbuang sia-sia

Waktu Adalah Nikmat Yang Agung

Allah swt banyak bersumpah dengan waktu. Tidak lain karena keagungan nikmat waktu dan begitu urgennya dalam kehidupan ummat manusia. Allah swt bersumpah dengan waktu dhuha, waktu malam, siang dan bahkan dengan waktu itu sendir; “Demi masa” .

Rasulullah saw melarang kita mencaci waktu. Karena waktu adalah hamba Allah swt yang senantiasa tunduk dan berserah diri kepada-Nya. Atas perintah-Nya dia berlalu dan melaju bagaikan badai tanpa ada yang sanggup menghentikannya, kecuali Allah swt Yang Maha Perkasa. Rasulullah saw bersabda:

نِعْمَتَانِ مَغْبُوْنٌ فِيْهِمَا كَثِيْرٌ مِنَ النَّاسِ: اَلصِّحَّةُ وَالْفَرَاغُ

“Ada dua nikmat yang kebanyakan manu-sia tertipu darinya, yaitu nikmat kesehatan dan waktu luang” (HR. al-Bukhariy)

Waktu Adalah Umur dan Kesempatan

Keberadaan kita dalam waktu adalah bagaikan ruang yang membatasi. Tanpanya kita benar-benar tiada. Allah swt adalah Dzat yang selalu mendatangkan waktu silih berganti, sehingga hari kemarin tidak akan dapat kita jumpai lagi. Bahkan sedetik waktu yang telah berlalu, terlalu jauh kebanding setahun yang akan datang. Karena setiap yang akan datang pastilah dekat.

Orang yang bertanggungjawab hanyalah orang yang menghargai waktu-waktunya. Adapun mereka yanng menyia-nyiakannya, maka ia pasti akan menuai kerugian besar.

Yang bisa dilakukannya hanyalah menerima tanggung saja!! Ia hidup dalam keadaan  mati,  meskipun  ia berjalan di muka bumi, masih merah warna darahnya dan masih berdetak jantungnya. Inilah  makna yang  tersirat dari ucapan orang-orang kafir ketika mereka ditanya:

Berapa tahunkah  lamanya engkau  tinggal di bumi? Mereka menjawab: Kami  tinggal di bumi sehari atau setengah hari

Jawaban ini menunjukkan bahwa seakan-akan mereka hidup hanya sehari atau setengah hari saja. Padahal sebenarnya di antara mereka ada yang hidup selama 60 (enam puluh) tahun, ada yang hingga 80 (delapan puluh) tahun dan bahkan ada yang hingga 100 (seratus tahun) atau bahkan lebih.

Namun mereka tidak memahami arti umur, serta tidak mampu menguasai dan mengisinya, sehingga merasa bahwa perjalanan hidupnya di dunia serasa begitu singkat, mengingat mereka tidak mengetahui masalah akhirat. Mereka hanya mengonsentrasikan pada masalah keduniawian belaka. Waktu-waktu yang dilaluinya berisi kesia-siaan semata.

Waktu adalah kesempatan untuk berbuat baik dan berbekal di hari kemudian. Ketika  maut (kematian) menjemput, maka saat itulah hilang sudah kesempatan kita.

Yang tersisa hanyalah kenangan atau penyesalan. Tak ada lagi kesempatan untuk memperbaiki ataupun menambah kebaikan. Hilangnya kesempatan bagi orang lain merupakan pelajaran berharga bagi setiap orang yang takut kepada Allah swt dan hari pembalasan. Sehingga seusai menceritakan adzab yang membinasakan Fir’aun, maka Allah swt berfirman:

إِنَّ فِي ذَلِكَ لَعِبْرَةً لِمَنْ يَخْشَى

“Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat pelajaran bagi orang yang takut” [QS. an-Na’zi’at (79): 26]

Menejemen Waktu

Tugas dan kewajiban kita sebagai manusia sangat banyak, sedang waktu sangatlah membatasi ruang gerak dan usaha kita. Dilihat dari sisi waktu dan kepentingannya, pekerjaan ada bermacam-macam jenis dan tingkatannya. Dari sini seorang mukmin harus memandang, memilih dan memilah berbagai pekerjaannya, dengan mengatur dan memenejnya, yaitu: dengan

1.    Dahulukan yang wajib dari yang sunnah atau mubah.

Karena takwa terletak pada pekerjaan yang diwajibkan dan meninggalkan yang di haramkan, bukan pada pekerjaan yang sunnah. Disanalah letak terjadinya tuntutan dan pertanggungjawaban!! Jika seseorang melalaikan yang wajib, maka cacat atau bahkan batallah ketakwaannya. Namun jika meninggalkan yang sunnah, maka tidaklah merubah ketakwaannya.

Amalan mandāb (sunnah) adalah penjaga dan pemelihara yang wajib. Lantas apa pedulinya kita bayar satpam tanpa ada yang dijaga??!! Amalan sunnah adalah penambal amalan wajib dari ketidaksempurnaan, lantas apa gunanya menambal ban sedang yang ditambal tidak ada?? Tentunya hanya bertepuk sebelah tangan!! Allah swt lebih cinta terhadap amalan wajib dari yang lainnya. Allah swt berfirman dalam hadits qudsi tentang amalan para wali-Nya:

“Dan tidaklah hamba-Ku mendekatkan diri kepada-Ku dengan sesuatu yang lebih aku cintai daripada apa yang telah aku wajibkan kepadanya”.

Baru setelah itu Allah swt lanjutkan dengan amalan sunnah, dalam firman-Nya:

“Dan senantiasa hamba-Ku mendekatkan diri kepada-Ku dengan amalan-amalan sunnah sehingga Aku mencintainya” (HR. al-Bukhariy)

Sebagai contoh adalah ketika iqamah telah dikumandangkan, maka janganlah memulai ataupun meneruskan shalat sunnat (jika masih sisa satu ruku’ atau lebih). Jangan mengutamakan shalat tahajjud jika malah tidak akan sanggup bangun pagi untuk shalat shubuh!

2.    Dahulukan yang fardhu ‘ain dari yang fardhu kifayah.

Kadang dua atau tiga amalan fardu berbenturan dalam satu waktu dan tidak ada kemungkinan sama sekali untuk melakukannya secara bersamaan. Maka jika di antara sekian fardhu itu ada yang fardu ‘ain, tidak ada pilihan lain kecuali mengutamakan yang fardu ‘ain. Karena yang fardu kifayah akan gugur dengan sendirinya jika ada orang yang mengerjakannya. Sedang yang fardu ‘ain, tidak akan ada yang mengerjakannya kecuali kita sendiri.

Contohnya adalah seorang menejer tidak boleh sibuk mengerjakan pekerjaan para stafnya sedang ia punya pekerjaan meeting atau planing program yang tidak dapat diwakilkan. Jika anda seorang dosen, maka menyiapkan materi pembelajaran harus didahulukan dari pada membantu cleaning servis. Maka pekerjaan yang tidak dapat diwakilkan harus dikerjakan sendiri dan diutamakan dari pada yang bisa diwakilkan. Dan yang sekiranya bisa diwakilkan mintalah orang lain untuk menggantikannya.

3.    Dahulukan wajib mudhayyaq (sempit waktu) dari yang muwassa’ (lapang atau longgar).

Ada kewajiban yang sifatnya longgar, sehingga bisa diulur barang sejenak atau bahkan di lain waktu. Adapula kewajiban yang tidak dapat ditunda-tunda lagi. Maka inilah yang harus didahulukan.

Misalnya saat laporan tahunan sebuah institusi harus segera diselesaikan dan tidak dapat ditunda karena lembaga tersebut memang sudah berjalan hingga penghujung tahunnya. Maka laporan inilah yang harus diprioritaskan dari kewajiban lainnya. Bukankah ketika waktu ashar telah hampir usai, sedang kita belum shalat ashar, maka shalat ashar itulah kewajiban yang paling utama dibanding yang lainnya?

4.    dahulukan yang paling utama dari yang utama.

Setiap kita ingin mengejar keutamaan, namun keutamaan itu bermacam-macam dan bertingkat-tingkat. Sedang waktu , kesempatan dan kemampuan kita amat sangat terbatas. Memilih pekerjaan yang paling utama merupakan efisiensi waktu, sekaligus merupakan suatu kemampuan untuk mendapatkan keberuntungan yang lebih besar.

Oleh karena itu, maka Rasulullah saw memprioritasakan dakwah tauhid dari pada yang lainnya; seperti persaudaraan, memulyakan tamu, menyantuni anak yatim, fakir miskin dan lainnya, namun bukan berarti beliau mengabaikannya sama sekali.

5.    mulailah dari yang termudah.

Dalam mengerjakan sesuatu hendaknya kita memulai dari perkara yang paling mudah, kemudian yang mudah, yang agak sulit baru kemudian yang sulit dan seterusnya. Hal ini merupakan fitrah manusia. Anak kecil, dia hanya belajar berjalan dan mengucapkan kata-kata yang sederhana saja, tak lebih dari itu. Lain halnya kalau kita memperhatikan apa yang dikerjakan oleh bapak dan ibu si bayi.

Singkatnya, kalau di permulaan kita sudah dihadapkan pada permasalahan yang pelik, maka bukan keberhasilan yang akan kita peroleh, namun rasa enggan dan pesimislah yang akan menghantui.

Rasulullah saw apabila disodorkan kepada beliau dua perkara, maka beliau pasti memilih yang termudah di antara keduanya, asalkan bukan merupakan  dosa. Hal ini menunjukkan  betapa pentingnya uslub tadarruj (bertahap dan perlahan) dalam segala sesuatu, yaitu berangsur-angsur dan tidak tergesa-gesa dalam mengerjakannya.

6.    Selesaikan pekerjaan hari ini dan  jangan ditunda.

Dengan menunda-nunda , maka pekerjaan akan semakin menumpuk di hadapan kita dan akan semakin berat mengerjakannya. Kalau sudah demikian, kita akan menyelesaikan pekerjaan tersebut dengan curahan fikiran dan tenaga yang tidak optimal sehingga hasilnyapun tidak akan maksimal. Menunda-nunda pekerjaan adalah jalan syetan yang diperuntukkan bagi pelamar kegagalan.

Sedangkan orang yang sukses adalah orang yang disibukkan dengan  perlombaan yang maha dasyat, yaitu perlombaan yang memerlukan kesungguhan, ketekunan serta kecepatan dan ketepatan dalam berpikir dan bertindak. Perlombaan yang menentukan  antara bahagia dan sengsara, mulia dan hina, syurga dan neraka.

Bersegera bukan berarti tergesa-gesa, karena bersegera adalah kecepatan dalam merespon sesuatu dibarengi dengan perhitungan yang matang dan kesabaran yang sempurna untuk menunggu hasil yang diharapkan. Sedangkan tergesa-gesa adalah suatu tindakan tanpa perhitungan yang didasari oleh ketidakmampuan untuk bersabar dalam menunggu hasil. Orang yang tergesa-gesa untuk memperoleh sesuatu yang belum waktunya, maka ia tidak akan mendapatkannya sama sekali.

7.    Belajarlah dari kegagalan masa lalu.

Seorang yang bijak tidak akan terperosok ke dalam lubang yang sama. jadikanlah kegagalan di masa lalu sebagai batu loncatan untuk menuju ke masa depan yang lebih baik. Karena hampir semua manusia tidak lepas dari kegagalan ketika menempuh sesuatu di masa lalunya, namun jangan sampai kesalahan yang sama yang menjadi sebab terjadinya kegagalan di masa lalu terulang kembali.

8.       jangan bernostalgia dengan kegagalan masa lalu.

Larut dalam kesedihan atas hal-hal yang telah terjadi di masa lalu yang tidak mungkin untuk diputar ulang kembali, hanya akan menambah kepedihan, kegundahan dan penyesalan yang berkepanjangan, yang hanya akan mewariskan kemalasan. Hingga pada gilirannya akan menghantarkan kepada kedunguan dan bahkan kegilaan (stress).

9.    jangan memikul beban yang belum sampai waktunya.

Kekhawatiran luar biasa terhadap segala apa yang akan terjadi di masa depan akan menjadi penghambat perubahan ke arah yang lebih baik di masa depan, serta akan mengubur potensi dan rasa percaya diri. Sadarlah, bahwa yang kita punyai hanyalah hari ini. Kemarin telah pergi jauh dan tak akan kembali lagi.

Sedang hari esok, siapa yang menjamin kita masih akan hidup?? Hari esok masih terlalu ghaib, lantas apa pedulinya kita harus merasa bersalah, susah, gelisah, dan terbebani dengan sesuatu yang belum ada wujudnya?

Ketika anda mengerjakan soal nomor 25, maka kerjakanlah soal itu dengan sepenuh hati. Jangan anda pikirkan soal-soal nomor 26 sampai yang ke 100, belum saatnya. Begitu pula dengan soal nomor 1 hingga 24, telah berlalu. Jangan semua menjadi beban anda pada saat menghadapi soal nomor 25!

10. adakan perubahan ke arah yang lebih baik, jangan canggung.

Di antara indikasi hidupnya hati dan adanya kebaikan di dalamnya, adalah dwengan senantiasa terdetik dalam diri untuk bisa mewujudkan yang lebih baik dan lebih baik lagi. Namun semuanya tidak sekedar dipikir dan diangan-angankan saja, melainkan harus segera melangkah. Ya, melangkah dari sesuatu yang baik menuju kepada yang  lebih  baik, dari yang utama menuju yang  lebih utama serta dari yang sempurna menuju yang lebih sempurna lagi.

Rasulullah saw mengajari ummatnya tentang 2 (dua) perkara yang dapat menghantarkan kepada kesuksesan dan bahkan kemenangan; yaitu berupaya keras dalam mewujudkan hal-hal yang bermanfaat seraya memohon pertolongan kepada Allah swt, tidak tunduk mengalah kepada sikap lemah yang tidak lain adalah sikap malas yang membahayakan, dan pasrah kepada Allah swt atas hal-hal yang memang sudah menjadi ketentuan dari-Nya.

11. Belajarlah untuk lebih terfokus pada suatu pekerjaan.

Menkonsentrasikan diri untuk menangani suatu pekerjaan akan lebih  mengoptimalkan curahan pikiran dan  tenaga  sehingga hasilnyapun dapat lebih maksimal. Umur dan kemampuan yang terbatas, apabila digunakan untuk banyak hal apalagi pada waktu bersamaan, maka hanya akan setengah-setengah. Ingatlah, bahwa Allah swt mencintai pekerjaan yang ditekuni, dan sekali-kali Dia tidak menjadikan dalam diri seseorang dua hati sekaligus.

Pada zaman sekarang adalah zaman spesialisasi, maka yang dicari adalah yang benar-benar mumpuni dalam bidangnya. Dokter yang setengah-setengah, maka dia tidak akan mendapatkan pasien. (TimHasmi.org)

Lihat: QS. adh-Dhuhā: 1-2 dan al-Layl: 1-2.

Lihat: QS. al-‘Ashr: 1.

Lihat: QS. al-Mu’minūn: 112-113.

Categories: Uncategorized | Tag: , | Tinggalkan komentar

10 Wasiat Hasan Albana

Seorang mujahid bernama Hasan Al Banna memberikan nasehat kepada kita. Nasehatnya terangkum dalam 10 wasiat. Mari sama-sama kita baca, tadaburi, dan amalkan nasehatnya berikut ini:

  1. Jika anda mendengar adzan segeralah lakukan shalat walau bagaimanapun kesibukan anda.
  2. Bacalah Al-Qur’an lakukanlah pengkajian, dengarlah pengajian dan berdzikirlah. Jangan sia-siakan waktu anda untuk persoalan yang tidak berguna.
  3. Berusahalah membiasakan berbicara dengan bahasa Arab standard karena bahasa Arab standard merupakan salah satu syi’ar Islam.
  4. Jangan memperbanyak perdebatan dalam semua urusan walau bagaimanapun keadaannya, sebab pertengkaran tidak akan mendatangkan perbaikan.
  5. Jangan banyak tertawa, karena orang yang selalu berhubungan dengan Allah bersifat tenang dan serius.
  6. Jangan banyak bergurau, sebab ummat yang berjihad hanya mengenal keseriusan.
  7. Jangan bersuara keras melebihi yang diperlukan pendengar karena hal itu selain menyakitkan juga ternmasuk perbuatan bodoh.
  8. Jangan mengumpat seseorang, jangan merendahkan lembaga-lembaga Islam dan jangan berbicara kecuali dalam kebaikan.
  9. Berkenalanlah dengan saudara dan teman-teman yang anda jumpai meskipun anda tidak diminta memperkenalkan diri sebab dasar dakwah kita adalah kasih sayang dan persaudaran.
  10. Kewajiban itu lebih banyak dari waktu yang anda miliki, maka bantulah orang lain supaya memanfaatkan    waktunya. Kalau anda berurusan persingkatlah pelaksanaannya.
Categories: Uncategorized | 1 Komentar