Monthly Archives: Desember 2010

Tadzkiroh Tentang Jabat Tangan

Memasuki era mihwar muassasi, interaksi dan komunikasi kader, anggota legislatif, pejabat eksekutif dan para pimpinan Partai Keadilan Sejahtera dengan seluruh komponen umat dan bangsa semakin luas dan terbuka. Namun demikian dengan semakin terbuka dan meluasnya hubungan kader dan pimpinan PKS dengan masyarakat, maka ekses dan dampak negatifnya juga ada. Dan jika tidak diantisipasi akan semakin besar.

Baca lebih lanjut

Categories: Download | Tinggalkan komentar

Esensi Hijrah Rasulullah SAW

Hari, minggu dan bulan begitu cepat berlalu. Kita kembali memasuki Tahun Baru Islam yakni 1 Muharram 1432 H yang jatuh bertepatan dengan tanggal 7 Desember 2010 M.

Jika kita membuka lembaran sejarah, seperti ditulis Guru Besar Universitas Ummul Quro, Saudi Arabia Munir Muhammad Ghadban dalam bukunya Fiqhussiratin Nabawiyyah, mengutip Ibnu Katsir dalam Al-Bidayah Wan Nihayah, pada masa pemerintahan Umar bin Khattab (sekitar tahun ke-16 H, ada yang mengatakan tahun 17 H dan 18 H), sahabat bersepakat untuk memulai hitungan kalender Islam sejak awal Hijrah Rasulullah SAW datang dari Mekah ke Madinah. Alasannya, karena Hijrah merupakan titik tolak kebangkitan kemuliaan Islam di seantero alam ini (liannahu waqtulladzi ‘izza fihil Islam).

Tiga Landasan Utama
Hijrah Rasulullah SAW menjadi pertanda berdirinya Darul Islam pertama di muka bumi. Disamping itu hijrah juga menjadi suatu bentuk pemberitahuan bahwa Daulah Islamiyah telah berdiri di bawah kepemimpinan langsung Nabi Muhammad SAW.

Kitab-kitab sirah seperti ditulis Ulama Al-Azhar Mesir, Dr Said Ramadhan Al-Buthi, Muhammad Al-Ghazali, juga Ulama Al-Azhar, Guru Besar Universitas Ummul Quro, Saudi, Munir Muhammad Ghadban, Prof Dr Zaid bin Abdul Karim Az-Zaid dari Universitas Islam Imam Muhammad Ibnu Saud, mengemukakan ada tiga tindakan penting Rasulullah SAW sebagai landasan (dasar) utama pemerintahan baru ini.

Pertama, pembangunan mesjid. Kedua, menjalin tali persaudaraan antara kaum muslimin, khususnya antara Muhajirin dan Anshor. Ketiga, menyusun undang-undang dasar yang mengatur kehidupan umat Islam, sekaligus mempertegas hubungan mereka dengan non muslim, khususnya dengan kelompok Yahudi.

Tentang dasar pertama pembangunan mesjid, Al-Buthi mengatakan, pendirian mesjid merupakan tindakan terpenting dalam proses pembangunan masyarakat Islam. Hal ini disebabkan masyarakat Islam yang kuat harus berpegang pada aturan, akidah dan prinsip-prinsip moral Islam yang kesemuanya itu bermuara pada potensi spiritual mesjid.

Muhammad Al-Ghazali menegaskan, bersegera mendirikan mesjid menunjukkan bahwa Rasulullah SAW ingin mensyiarkan keagungan Islam. Sholat didirikan di mesjid mengisyaratkan keterikatan setiap insan muslim dengan Khaliknya, Tuhan Seru Sekalian Alam.

Tak ada harganya kebudayaan yang ditegakkan tanpa hubungan dengan Allah Yang Maha Esa. Kebudayaan Islam yang mulai disyiarkan di Madinah ditegakkan atas dasar hukum-hukum Allah (taqiru ‘ala hududillah) yang dilestarikan dengan melaksanakan amar ma’ruf nahi mungkar.

Di sisi lain, Ghadban menyoroti pendirian mesjid di Madinah sebagai suatu permakluman disebarluaskannya ajaran tauhid di Madinah sekaligus memberitakan berdirinya suatu pemerintahan Islam yang berdaulat (I’lanu qiyami daulatil Islam).

Suatu hal penting, baik Al-Buthi maupun Ghadban mencatat perbedaan mesjid di zaman Nabi SAW yang menjadi sumber pembinaan segala aspek kehidupan muslim dengan mesjid-mesjid di masa kini di berbagai negeri Islam. Fisiknya megah, penuh hiasan, mengkilap dan glamour, tapi tak ada ruh. Tak ada kehidupan Islam di dalamnya.

Menurut penulis, tentu tak terkecuali juga ada mesjid di tanah air kita yang megah secara fisik, tapi minim dalam menggerakkah jemaah menghayati spiritual Islam.

Prof. Zain mencatat sisi lain lagi yaitu tentang kerjasama Rasulullah SAW bersama para sahabatnya dalam membangun mesjid menggambarkan teladan yang baik dalam setiap aktifitas kerja.

Oleh karena itu, bagi setiap individu muslim apabila menyuruh seseorang kepada kebaikan hendaklah ia menjadi orang pertama yang melakukannya. Begitu juga ketika menyuruh seseorang meninggalkan sesuatu, maka hendaklah ia orang pertama yang meninggalkannya.

Menurut penulis, keteladanan seperti ini selalu ditunjukkan Rasulullah SAW, misalnya dalam persiapan menghadapi peperangan melawan kafir Quraisy dan sekutunya (Al-Ahzab) ikut serta menggali parit, suatu strategi perang yang diusulkan Salman Al-Farisi, dan lain sebagainya.

Dalam hubungan ini menjadi pegangan kaum muslimin sepanjang zaman, sebuah hadis shahih diriwayatkan Nasaai, “ibdak binafsik…”, mulailah dari dirimu sendiri. Jangan hanya pandai berkata tapi tak mau berbuat. Keteladanan kepemimpinan seperti ditunjukkan Rasululullah SAW hendaknya kembali menjadi renungan pada saat memperingati Tahun Baru Islam untuk diterapkan oleh para pemimpin muslim, termasuk di Indonesia.

Setiba di Madinah Rasulullah SAW langsung mengikat kalangan Muhajirin dan Anshor dengan tali persaudaraan yang teguh. Inilah dasar yang kedua. Rasulullah SAW menjadikan mereka saling bersaudara di bawah nilai-nilai kebenaran dan kesetaraan. Persaudaraan mereka jelas dibangun di atas landasan agama Islam dan kesatuan akidah.

Menurut Muhammad Al-Ghazali, ikatan persaudaraan ini menghapuskan ‘ashabiyah, kebanggaan kabilah dan fanatisme kesukuan yang tumbuh subur di zaman jahiliyah.

Al-Buthi menegaskan hikmah adanya ikatan ini menjadi salah satu pondasi penting dalam membangun keadilan sosial (ahammul assail lazimah linizhamil ‘adalatil jama’iyah).

Namun menurut penulis, untuk mewujudkan persaudaraan sejati seperti di masa awal pemerintahan Islam sekarang ini akan menemukan banyak kendala. Sebutlah sebagai contoh di Negara Irak yang terus bergolak. Diakui atau tidak, Barat berhasil memarakkan api permusuhan antar kaum muslimin itu sendiri, antara Syiah dan Sunni.

Juga di tanah air kita tumbuh beragam pemahaman seperti Jaringan Islam Liberal, kaum Salafiah yang cendrung eksklusif. Ada pula yang menyebut dirinya Islam, tapi pemahaman dan pengamalannya berbeda seperti Ahmadiyah, sehingga sering memicu konflik internal.

Sulitnya mengharapkan kaum muslimin sedunia saat ini menjalin persaudaraan seperti Muhajirin dan Anshor, juga diakui Munir Muhammad Ghadban. Namun ia katanya, terus berdoa agar hal itu terwujud, karena panjang waktunya, penuh liku-liku, penuh kesulitan (faththariqu thawilan thawilan wa syaqqan syaqqan).

Selanjutnya dasar ketiga adalah Piagam Madinah yang mengatur kehidupan muslim-non muslim. Menurut Al-Buthi dasar ketiga ini merupakan bagian terpenting yang dilakukan Rasulullah SAW karena berhubungan dengan perundang-undangan sebuah Negara baru.

Ibnu Hisyam meriwayatkan dalam kitab monumentalnya Assiratun Nabawiyyah, beberapa hari setelah Rasulullah SAW tiba di Madinah, masyarakat Arab berkumpul menghadapnya. Pada saat itu seisi rumah kaum Anshor telah memeluk Islam. Satu-satunya suku di Madinah yang belum semua warganya memeluk Islam hanyalah kabilah Aus. Ada lagi jiran mereka yang sudah lama menetap di Madinah yakni kaum Yahudi dan musyrikhi lainnya.

Selanjutnya Rasulullah SAW menulis sebuah piagam perjanjian yang diberlakukan bagi kaum muslimin, Anshor dan kaum Yahudi. Di dalam perjanjian itu Rasulullah SAW meratifikasi agama yang mereka peluk (aqarrahum ‘ala dinihim), hak kepemilikan harta dan beberapa hal lainnya.

Al-watsiqah (Piagam Madinah) didefinisikan oleh Al-Buthi sebagai addustur, karena menurut Ulama paling berpengaruh di Timteng ini, addustur (undang-undang) merupakan istilah yang paling modern dan tepat. Undang-undang tersebut disusun Rasulullah SAW berdasarkan wahyu Allah SWT, ditulis para sahabat untuk kemudian dijadikan landasan yang disepakati bersama oleh kaum muslimin dan Yahudi yang bertetangga dengan mereka.

Semua ini tegas Al-Buthi membuktikan bahwa sejak awal masyarakat Islam sudah didirikan di atas undang-undang dasar yang sempurna. Piagam ini sekaligus menjadi bukti bahwa sejak awal “Negara Islam” (addaulatul Islamiyyah) telah memiliki komponen perundang-undangan dan administrasi Negara (al-idariyyah) yang representatif.

Muhammad Al-Ghazali menegaskan, lahirnya Piagam Madinah menepis anggapan bahwa umat Islam sangat eksklusif, tidak bisa hidup berdampingan dengan non muslim. la menggaris bawahi bahwa sejak di Madinah prinsip Islam sudah diterapkan dengan tegas “Bagimu agamamu dan bagiku agamaku”.

Menurut penulis, di Indonesia, para pengarang Siasah Syariah dan pemuka Muslim, sangat menekankan pentingnya Piagam Madinah yang menjadi tonggak dasar, menjadi pendorong bagi umat Islam untuk ikut mengambil peran penting merumuskan dan melaksanakan kerukunan hidup umat beragama di Indonesia. Dan ini akan lestari dalam masyarakat Madani yang toleran. (analisadaily/harian analisa)

Oleh HM Sazli Nasution
http://ddhongkong.org

Categories: Download | Tinggalkan komentar

Mendidik Anak Cara Nabi Ibrahim

Kawinilah wanita yang kamu cintai lagi subur (banyak melahirkan) karena aku akan bangga dengan banyaknya kamu terhadap umat lainnya. [HR. Al-Hakim]

Begitulah anjuran Rasulullah saw kepada umatnya untuk memiliki anak keturunan.

Sehingga lahirnya anak bukan saja penantian kedua orang tuanya, tetapi suatu hal yang dinanti oleh Rasulullah saw. Dan tentu saja anak yang dinanti adalah anak yang akan menjadi umatnya Muhammad saw. Berarti, ada satu amanah yang dipikul oleh kedua orang tua, yaitu bagaimana menjadikan atau mentarbiyah anak—yang titipan Allah itu—menjadi bagian dari umat Muhammad saw.

Untuk menjadi bagian dari umat Muhammad saw. harus memiliki karakteristik yang disebutkan oleh Allah swt.:

Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka. kamu lihat mereka ruku’ dan sujud mencari karunia Allah dan keridhaan-Nya, tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka dari bekas sujud. Demikianlah sifat-sifat mereka dalam Taurat dan sifat-sifat mereka dalam Injil, yaitu seperti tanaman yang mengeluarkan tunasnya Maka tunas itu menjadikan tanaman itu Kuat lalu menjadi besarlah dia dan tegak lurus di atas pokoknya; tanaman itu menyenangkan hati penanam-penanamnya Karena Allah hendak menjengkelkan hati orang-orang kafir (dengan kekuatan orang-orang mukmin). Allah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh di antara mereka ampunan dan pahala yang besar. [QS. Al-Fath, 48: 29]

Jadi karakteristik umat Muhammad saw adalah: [1] keras terhadap orang Kafir, keras dalam prinsip, [2] berkasih sayang terhadap sesama umat Muhammad, [3] mendirikan shalat, [4] terdapat dampak positif dari aktivitas shalatnya, sehingga orang-orang yang lurus, yang hanif menyukainya dan tentu saja orang-orang yang turut serta mentarbiyahnya.

Untuk mentarbiyah anak yang akan menjadi bagian dari Umat Muhammad saw. bisa kita mengambil dari caranya Nabi Ibrahim, yang Allah ceritakan dari isi doanya Nabi Ibrahim dalam surat Ibrahim berikut ini:

Ya Tuhan kami, Sesungguhnya Aku Telah menempatkan sebahagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati, Ya Tuhan kami (yang demikian itu) agar mereka mendirikan shalat, Maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan beri rezkilah mereka dari buah-buahan, Mudah-mudahan mereka bersyukur.

Ya Tuhan kami, Sesungguhnya Engkau mengetahui apa yang kami sembunyikan dan apa yang kami lahirkan; dan tidak ada sesuatupun yang tersembunyi bagi Allah, baik yang ada di bumi maupun yang ada di langit.

Segala puji bagi Allah yang Telah menganugerahkan kepadaku di hari tua (ku) Ismail dan Ishaq. Sesungguhnya Tuhanku, benar-benar Maha mendengar (memperkenankan) doa.

Ya Tuhanku, jadikanlah Aku dan anak cucuku orang-orang yang tetap mendirikan shalat, Ya Tuhan kami, perkenankanlah doaku.

Ya Tuhan kami, beri ampunlah Aku dan kedua ibu bapaku dan sekalian orang-orang mukmin pada hari terjadinya hisab (hari kiamat)”. [Ibrahim: 37-41]

Dari doanya itu kita bisa melihat bagaimana cara Nabi Ibrahim mendidik anak, keluarga dan keturunannya yang hasilnya sudah bisa kita ketahui, kedua anaknya—Ismail dan Ishaq—menjadi manusia pilihan Allah:

Cara pertama mentarbiyah anak adalah mencari, membentuk biah yang shalihah. Representasi biah, lingkungan yang shalihah bagi Nabi Ibrahim Baitullah [rumah Allah], dan kalau kita adalah masjid [rumah Allah]. Maka, kita bertempat tinggal dekat dengan masjid atau anak-anak kita lebih sering ke masjid, mereka mencintai masjid. Bukankah salah satu golongan yang mendapat naungan Allah di saat tidak ada lagi naungan adalah pemuda yang hatinya cenderung kepada masjid.

Kendala yang mungkin kita akan temukan adalah teladan—padahal belajar yang paling mudah itu adalah meniru—dari ayah yang berangkat kerjanya ba’da subuh yang mungkin tidak sempat ke masjid dan pulangnya sampai rumah ba’da Isya, praktis anak tidak melihat contoh shalat di masjid dari orang tuanya. Selain itu, kendala yang sering kita hadapi adalah mencari masjid yang ramah anak, para pengurus masjid dan jamaahnya terlihat kurang suka melihat anak dan khawatir terganggu kekhusu’annya, dan ini dipengaruhi oleh pengalamannya selama ini bahwa anak-anak sulit untuk tertib di masjid.

Cara kedua adalah mentarbiyah anak agar mendirikan shalat. Mendirikan shalat ini merupakan karakter umat Muhammad saw sebagaimana yang uraian di atas. Nabi Ibrahim bahkan lebih khusus di ayat yang ke-40 dari surat Ibrahim berdoa agar anak keturunannya tetap mendirikan shalat. Shalat merupakan salah satu pembeda antara umat Muhammad saw dengan selainnya. Shalat merupakan sesuatu yang sangat penting, mengingat Rasulullah saw memberikan arahan tentang keharusan pembelajaran shalat kepada anak: suruhlah anak shalat pada usia 7 tahun, dan pukullah bila tidak shalat pada usia 10 tahun. Rasulullah saw membolehkan memukul anak di usia 10 tahun kalau dia tidak melakukan shalat dari pertama kali disuruh di usia 7 tahun. Ini artinya ada masa 3 tahun, orang tua untuk mendidik anak-anaknya untuk shalat. Dan waktu yang cukup untuk melakukan pendidikan shalat.

Proses tarbiyah anak dalam melakukan shalat, sering mengalami gangguan dari berbagai kalangan dan lingkungan. Dari pendisiplinan formal di sekolah dan di rumah, kadang membuat kegiatan [baca: pendidikan] shalat menjadi kurang mulus dan bahkan fatal, terutama cara membangun citra shalat dalam pandangan anak. Baru-baru ini, ada seorang suami yang diadukan oleh istrinya tidak pernah shalat kepada ustadzahnya, ketika ditanya penyebabnya, ternyata dia trauma dengan perintah shalat. Setiap mendengar perintah shalat maka terbayang mesti tidur di luar rumah, karena ketika kecil bila tidak shalat harus keluar rumah. Sehingga kesan yang terbentuk di kepala anak kegiatan shalat itu tidak enak, tidak menyenangkan, dan bahkan menyebalkan. Kalau hal ini terbentuk bertahun-tahun tanpa ada koreksi, maka sudah bisa dibayangkan hasilnya, terbentuknya seorang anak [muslim] yang tidak shalat.

Cara keempat adalah mentarbiyah anak agar disenangi banyak orang. Orang senang bergaul dengan anak kita, seperti yang diperintahkan oleh Rasulullah saw: “Berinteraksilah dengan manusia dengan akhlaq yang baik.” [HR. Bukhari]. Anak kita diberikan cerita tentang Rasulullah saw, supaya muncul kebanggaan dan kekaguman kepada nabinya, yang pada gilirannya menjadi Rasulullah menjadi teladannya. Kalau anak kita dapat meneladani Rasulullah saw berarti mereka sudah memiliki akhlaq yang baik karena—sebagaimana kita ketahui—Rasulullah memiliki akhlaq yang baik seperti pujian Allah di dalam al-Quran: “Sesungguhnya engkau [Muhammad] berakhlaq yang agung.” [Al-Qalam, 68: 4]

Cara ketiga adalah mentarbiyah anak agar dapat menjemput rezki yang Allah telah siapkan bagi setiap orang. Anak ditarbiyah untuk memiliki life skill [keterampilan hidup] dan skill to life [keterampilan untuk hidup]. Rezki yang telah Allah siapkan Setelah itu anak diajarkan untuk bersyukur.

Cara keempat adalah mentarbiyah anak dengan mempertebal terus keimanan, sampai harus merasakan kebersamaan dan pengawasan Allah kepada mereka.

Cara kelima adalah mentarbiyah anak agar tetap memperhatikan orang-orang yang berjasa—sekalipun sekadar doa—dan peduli terhadap orang-orang yang beriman yang ada di sekitarnya baik yang ada sekarang maupun yang telah mendahuluinya.

Kodar Slamet, SPd
dakwatuna.com

Categories: Download | Tinggalkan komentar

Muhammad “Guru” Dunia

Adalah Muhammad saw. Nabi untuk kemanusiaan… kedamaian tersemaikan, kesejahteraan terealisasikan…. Allah swt. memberi kelebihan dan keutamaan kepada kita, umat Muhammad, berupa misi beliau yang menebar rahamatan lil ’alalim. Sungguh benar firman Allah swt,

”Dan Kami tidak mengutus kamu, kecuali sebagai pembawa rahmat bagi alam semesta.” Al Anbiya’:107

Kasih sayang Muhammad saw. meliputi hewan dan tanaman. Terhadap burung dan unta misalkan, atau terhadap pelepah kurma yang merintih, sehingga hati beliau tersayat ketika mendengar rintihannya.
Tentunya, terhadap manusia beliau lebih sayang, terutama kepada anak-anak.

Muhammad saw. merupakan contoh agung dalam berkasih sayang dan bersikap lembut terhadap anak-anak. Beliau teladan besar dalam mendidik anak-anak kita.

Adalah Muhammad saw. sebagai ayah yang penyayang, sebagai kakek yang lembut dan penuh perhatian terhadap semua anak-anak… Inilah pribadi Muhammad, Nabi kemanusiaan saw.

Sungguh, Muhammad saw. memberi pelajaran dan pengalaman berharga bagi kita semua dalam hal mendidik anak-anak kita. Agar kita mampu mencetak generasi yang mampu mengemban tanggungjawab luhur dan mengangkat tinggi panji Islam.

Pokok-Pokok Pendidikan Muhammad

Sirah Nabi telah mengajarkan kepada kita prinsip-prinsip pendidikan, yaitu pentingnya anak-anak memiliki percaya diri, mandiri dan mampu mengemban tanggungjawab di usia dini. Inilah problematika kita sekarang, anak-anak kita kehilangan sikap percaya diri, mandiri dan mental dewasa.

Kita berhajat untuk mengingat peristiwa di mana Muhammad saw. menjadikan Zaid bin Haritsah sebagai pemimpin pasukan kaum muslimin, meskipun usianya masih muda belia. Ketika itu umurnya baru enam belas tahun (16), padahal ada orang yang lebih tua dan lebih tinggi kedudukannya, seperti Abu bakar, Umar radhiyallahu anhum. Kenapa Muhammad melakukan hal demikian? Adalah karena beliau ingin mengajarkan kepada Zaid rasa percaya diri, dan agar menghilangkan anggapan sebagian orang bahwa Zaid tidak mampu, sekaligus sebagai pembelajaran bagi generasi masanya untuk peduli dengan problematika umat dan berkontribusi menyelesaikannya.

Pendidikan Sikap dan Perilaku

Muhammad saw. mengajarkan dasar-dasar ajaran agama yang lurus kepada anak-anak sejak dini. Beliau mendorong mereka untuk mempelajari etika umum dan perilaku lurus yang orang Barat sekarang menamakannya sebagai ”Seni Etika”.

فقد روى البخاري ومسلم أن عمر بن أبي سلمة، قال:” كنت غلامًا في حجر رسول الله، وكانت يدي تطيش في الصفحة، فقال لي رسول الله “يا غلام، سمِّ الله، وكل بيمينك، وكل مما يليك”، وعندما أراد الحسين- رضي الله عنه – أن يأكل تمرة من تمر الصدقة، قال له الرسول : “كخ كخ، أما علمت أنا لا تحل لنا الصدقة؟!”

Imam Bukhari dan Muslim meriwayatkan dari Umar bin Abi Salamah, ia berkata: ”Ketika saya masih kecil di asuhan Rasulullah, saya hendak meraih makanan di nampan, maka Rasulullah saw. bersabda, ”Wahai anak kecil, sebutlah nama Allah, makanlah dengan tangan kanan, dan makanlah apa yang terdekat dari kamu.”

Ketika Husain ra, cucu Nabi hendak makan kurma dari hasil sedekah, maka Rasulullah saw. bersabda, ”Jangan, jangan. Bukankah kamu tahu, bahwa tidak halal bagi kita -keluarga NAbi- sedekah seseorang?!.”

Ayah Yang Penyayang

Ketika kita berbicara kasih sayang dan kelembutan Muhammad saw. terhadap anak-anak, maka tidak akan pernah kita temukan bandingan dan permisalan seperti beliau saw. Banyak peristiwa dalam sirah Nabi yang mempesona berkaitan dengan kasih sayang beliau terhadap anak-anak. Baik beliau sebagai Ayah, Kakek atau Pendidik bagi semua anak-anak. Termasuk kasih sayang beliau terhadap anak-anak non muslim.

فقد كان النبي- صلى الله عليه وسلم- يرفع ابنته فاطمة الزهراء – رضي الله عنها – وهي صغيرة عاليا ثم ينزلها ويفعل هذا عدة مرات، ثم يقول “ريحانه أشمها ورزقها على ربها”،

“Adalah Muhammad saw. mengangkat dan melempar ke atas putri kecilnya, Fathimah Az Zahra’ ra tinggi-tinggi dan menangkapnya. Beliau melakukan iti beberapa kali, kemudian beliau bersabda, ”Semoga harum namanya dan luas rizkinya.”

Adalah Muhammad sangat mencintai cucu-cucunya.

وكان النبي- صلى الله عليه وسلم- محبا لأحفاده وكان كثيرا ما يقوم بتدليلهم فعن جابر يقول” دخلت على النبي صلى الله عليه وسلم، وهو يمشي على أربعة وعلى ظهره الحسن والحسين – رضي الله عنهما- وهو يقول “نعم الجمل جملكما ونعم العدلان أنتما”، وروى الإمام أحمد في مسنده،

Diriwayatkan oleh Jabir, berkata, ”Saya menemui Nabi saw, ketika beliau berjalan merangkak sedangkan di atasnya Hasan dan Husain ra sedang bercanda. Beliau bersabda, ”Seganteng-ganteng orang adalah kalian berdua, dan seadil-adil orang adalah kalian berdua.”

Diriwayatkan oleh Abu Hurairah ra, berkata, ”Kami shalat Isya’ bersama Nabi. Ketika Nabi sujud, Hasan dan Husain menaiki punggung Nabi. Ketika beliau mengangkat kepalanya, beliau mengambil keduanya dari sisi belakang dengan cara lembut dan menaruh keduanya di lantai. Ketika beliau sujud kembali keduanya mengulangi seperti sebelumnya sampai beliau selesai shalat. Kemudian beliau mendudukkan salah satunya di pahanya.”

Dari Usamah bin Zaid ra, Rasulullah saw mengambil saya dan mendudukkan saya di pahanya sedangkan di paha satunya duduk Hasan ra, kemudian beliau merangkulkan keduanya seraya berdo’a, ”Ya Allah sayangi keduanya, karena saya menyayangi keduanya.”

Dari Abdullah bin Buraidah dari bapaknya, berkata, ”Adalah Rasulullah saw sedang berkhutbah, ketika itu Hasan dan Husain memakai baju merah berjalan-jalan dan mutar-mutar di dalam masjid. Maka Rasulullah saw. turun dari minbar dan mengambil keduanya, dan menaruhnya di dekatnya seraya bersabda, ”Sungguh benar firman Allah, ”Sesungguhnya harta-harta dan anak-anak kalian adalah fitnah bagi kalian.” Saya lihat kedua anak ini jalan-jalan, sehingga saya tidak bersabar, saya memotong khutbahku agar saya mengambil keduanya.”

وجاء الأقرع بن حابس إلى رسول الله فرآه يقبّل الحسن بن علي،” فقال الأقرع: أتقبّلون صبيانكم؟! فقال رسول الله: (نعم)، فقال الأقرع: إن لي عشرةً من الولد ما قبلت واحدًا منهم قط، فقال له رسول الله : (من لا يرحم لا يرحم) متفق عليه.

Al Aqra’ bin Habis datang menemui Rasulullah saw. Ketika itu ia melihat beliau mencium Hasan bin Ali ra. Maka saya bertanya, ”Apakah kalian mencium anak-anak kalian?” Rasulullah saw. menjawab, ”Ya”. Al Aqra’ berkata, ”Sungguh, saya mempunyai sepuluh anak, tidak pernah sekali pun saya mencium salah satu dari mereka.” Maka Rasulullah saw. bersabda, ”Barangsiapa yang tidak sayang, ia tidak akan disayang.” Muttafaqun ’Alaih.

Perilaku Muhammad saw. yang demikian tidak hanya kepada keluarganya saja, tapi untuk semua anak-anak pada masanya, sampai pembantunya sekalipun. Adalah Anas Bin Malik memberi kesaksian, ”Saya telah sepuluh tahun menjadi pelayan Rasul, selama itu beliau tidak pernah berkata uf atau hus ata ah kepada saya.”

Adalah Muhammad saw. sangat menganjurkan agar memberi nama anak dengan sebaik-baik nama, begitu juga beliau sangat tidak setuju dan melarang pemberian nama yang buruk. Kenapa? Karena nama itu jangan sampai mempengaruhi mentalitas anak ketika mereka menginjak dewasa.

Muhammad saw. juga sangat memperhatikan penampilan anak-anak.

فعن نافع بن عمر أن النبي – صلى الله عليه وسلم – رأى صبيا قد حلق رأسه وترك بعضه فنهاهم عن ذلك وقال “احلقوه كله أو اتركوه كله”،

Diriwayatkan dari Nafi’ bin Umar, bahwa Nabi saw. melihat anak kecil rambutnya dipotong separuh dan separuh lagi dibiarkan, maka beliau melarang hal yang demikian, seraya bersabda, ”Cukur semuanya atau tidak sama sekali.”

Inilah bukti kepedulian beliau terhadap penampilan anak, agar anak-anak tampil lebih baik, yaitu tampilan Islami. Contoh peristiwa kepedulian Muhammad saw. terhadap pendidikan perilaku dan kasih sayang beliau terhadap anak-anak sangatlah banyak sekali.

Penyayang Terhadap Non Muslim

Muhammad saw. tidak hanya penyayang terhadap anak-anak muslim saja. Namur beliau juga penyayang terhadap anak-anak non muslim.

Adalah kisah anak non muslim Abu Mahdzurah, si pemilik suara merdu. Ketika dia mengejek adzan. Bagaimana Muhammad saw. Memperlakukannya? Beliau tidak memarahinya atau menghukumnya atas ejekan itu. Bahkan beliau mengusap kepalanya seraya berdo’a, “Ya Allah, berilah keberkahan terhadapnya dan tunjukilah dia kepada Islam, beliau mengucapkan itu dua kali. Selanjutnya beliau menyuruh dia mengucapkan, “Allahu Akbar Allahu Akbar Allahu Akbar” sampai akhirnya Abu Mahdzurah adzan di Makkah, Subhanallah!

Muhammad saw. juga sangat peduli terhadap anak-anak non muslim yang sedang sakit, beliau mendo’akan kesembuhannya, beliau memegang tangannya dan mendo’akan kebaikan terhadapnya.

فقد ورد في صحيح البخاري عن أنس بن مالك رضي الله عنه، قال: “كان غلام يهودي يخدم النبي صلى الله عليه وسلم فمرض, فأتاه الرسول – صلى الله عليه وسلم- يعوده فقعد عند رأسه، فقال له أسلم فنظر إلى أبيه وهو عنده، فقال له: “أطع أبا القاسم”؛ فأسلم الصبي ,فخرج النبي- صلى الله عليه وسلم- وهو يقول الحمد لله الذي أنقذه من النار “

Diriwayatkan dalam shahih Imam Bukhari dari Anas bin Malik ra, berkata,
“Adalah seorang anak Yahudi menjadi pelayan Nabi sedang menderita sakit, maka Rasulullah saw. menjenguknya. Beliau duduk di dekat kepalanya seraya berkata kepadanya, “Berislamlah”. Anak tadi menoleh kepada ayahnya yang berada di sampingnya. Ayahnya berkata, “Ikuti Abal Qasim”. Maka bocah tadi masuk Islam. Lalu Rasulullah saw. keluar seraya berkata, “Segala puji bagi Allah yang telah menyelamatkan dia dari neraka.”

Sunggguh Agung Kepribadian Muhammad

Sungguh, sungguh menakjubkan pribadi engkau wahai Muhammad. Engaku tetap menjadi teladan, model dan idola yang layak dicontoh bagi setiap manusia dalam segala sisi kehidupan. Engkau adalah kasih sayang yang dihamparkan Allah swt. di muka bumi. Engkau telah menjadikan kami sebagai “khairu ummah”, sebaik-baik umat manusia.” Sungguh benar firman Allah swt,

”Sungguh, ada suri tauladan yang baik bagi kalian pada diri Rasulullah, yaitu bagi siapa saja yang mengharap (berjumpa dengan) Allah dan Hari Akhir.” Al Ahzab:21

Shalawat dan salam untukmu Ya Rasulullah. Allahu A’lam

By : Ulis Tofa, Lc
dakwatuna.com

Categories: Download | Tinggalkan komentar